Dampak turbulensi pasar finansial global semakin kita rasakan akhir-akhir ini. Banyak yang mengkhawatirkan ekonomi Indonesia sedang bergerak menuju krisis lagi. Akan tetapi, saat ini tampaknya keadaan kita jauh lebih baik. Indonesia tidak sedang menuju krisis seperti tahun 97-98 lalu.
Tekanan krisis finansial global semakin dirasakan oleh kita akhir-akhir ini. Hal ini terlihat, antara lain, dari keadaan IHSG yang masih berada pada level yang amat rendah dan nilai tukar rupiah yang terus berada pada level yang relatif lemah.
Dalam perdagangan beberapa minggu terakhir, rupiah diperdagangkan di atas level “psikologi” sepuluh ribu rupiah per dolar. Rupiah bahkan sempat menembus sebelas ribu dan mendekati level dua belas ribu rupiah per dolarnya. Tekanan yang dialami oleh rupiah membuat sebagian kalangan teringat kembali pada krisis 1997-1998 lalu dimana rupiah terkoreksi amat tajam, yang pada akhirnya menjerumuskan Indonesia ke dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Apakah kita sedang menuju krisis ala 97-98 lalu?
Ada Perbedaan
Pada tahun 97-98 lalu krisis dimulai dari masalah yang timbul di negara berkembang, yaitu ekspansi yang berlebihan di sektor perumahan di Thailand. Ketidakpercayaan investor akan kekuatan fondasi ekonomi Thailand ketika itu telah mendorong para spekulan mata uang untuk menyerang Baht. Akibatnya, Baht pun terkoreksi dengan tajam. Ulah spekulan tidak berhenti pada mata uang Baht saja, rupiah dan mata uang negara-negara Asia lain pun ikut menjadi korban.
Ketika itu, persediaan dolar negara-negara di kawasan ini tidaklah terlalu banyak. Akibatnya, negara-negara di kawasan ini seolah tak berdaya terhadap terkanan para spekulan. Apalagi kemudian orang-orang yang bukan spekulan pun beramai-ramai ikut-ikutan memburu dolar karena khawatir mata uang domestik mereka akan runtuh. Akibatnya, nilai tukar rupiah, Baht, Won, dan Ringgit pun jatuh tidak terkendali dan terjadilah krisis Asia 97-98.
Saat ini keadaan agak berbeda dengan keadaan menjelang krisis 97-98 lalu. Pada saat ini keadaan fundamental ekonomi negara-negara Asia lebih baik dibandingkan keadaan pra krisis 97-98. Krisis finansial global saat ini justru dimulai dari negara maju, bukan dari negara di kawasan Asia. Masalah kredit perumahan di AS yang macet telah membuat banyak perusahaan finansial besar mengalami kebangkrutan. Akibatya, pergerakan sektor ril pun menjadi terancam karena terjadi kekeringan kredit (credit cruch). Kebangkrutan perusahaan-perusahaan finansial besar di AS telah membuat kemampuan sektor finansial di sana dalam menyalurkan kredit menjadi terbatas.
Dengan kata lain, fungsi intermediasi dari sektor finansial di sana menjadi lumpuh. Dana masyarakatpun menjadi tidak dapat lagi disalurkan dengan efektif ke pihak yang membutuhkannya.
Keadaan ini tentu saja membuat konsumen dan dunia usaha menjadi sulit membiayai belanja ataupun investasi mereka. Akibatnya, konsumsi rumah tangga dan kegiatan ekspansi perusahaan menjadi terganggu. Tentu saja sektor ril di sana pun mulai merasakan dampak negatif yang cukup signifikan, dan ekonomi pun mulai melambat secara signifikan. Perlambatan yang terjadi di AS ini sudah mulai dirasakan di seluruh bagian dunia, termasuk Indonesia.
Di samping itu, pada saat ini negara-negara kawasan Asia Tenggara memiliki jumlah cadangan devisa yang jauh lebih besar dari keadaan pra krisis tahun 97-98 lalu. Indonesia, misalnya, per Oktober memiliki cadangan devisa sebesar US$ 50,6 milyar dolar. Singapura memiliki cadangan devisa sebesar US$ 168,8 miliar. Sedangkan Malaysia dan Thailand masing-masing memiliki cadangan devisa sebesar US$ 102,1 milyar dan US$ 99,9 milyar.
Cina memiliki cadangan devisa sebesar US$ 1906,0 miliar dan Jepang memiliki cadangan devisa sekitar US$ 1 miliar. Kawasan Asia secara keseluruhan memiliki cadangan devisa yang amat besar, mendekati US$ 3,5 triliun.
Dengan cadangan devisa sebesar ini rasanya negara-negara di kawasan ini akan dengan mudah dapat mempertahankan nilai tukar mata uangnya, bila mereka merasa perlu. Apalagi diantara negara-negara ASEAN + 3 (China, Jepang, Korea) sudah ada berjanjian swap, dimana suatu negara dalam grup ini dapat meminjam cadangan devisa dari negara lain dalam grup ini bila diperlukan.
Mengingat prospek ekonomi di negara-negara maju saat ini cenderung lebih buruk dari ekonomi di negara kawasan Asia Tenggara, rasanya peluang terjadinya pelarian modal besar-besaran dari negara-negara kawasan ini ke negara maju menjadi semakin kecil. Hal ini, ditambah dengan besarnya cadangan devisa di Asia saat ini, memperkecill peluang terjadinya krisis nilai tukar seperti tahun 97-98 lalu.
Namun, tertekannya nilai tukar rupiah, yang diikuti oleh turunnya cadangan devisa Indonesia sebesar 11,4 persen di bulan Oktober lalu (turun dari US$ 56,3 milyar pada bulan September) tetap saja menimbulkan kesan Indonesia akan terpuruk lagi, lebih dalam dari negara-negara tetangga kita.
Penurunan cadangan devisa sebenarnya tidak dialami oleh Indonesia saja. Beberapa negara lain pun mengalami hal yang sama. Malaysia, misalnya, cadangan devisanya turun menjadi US$ 102,1 milyar dari US$ 112,5 milyar pada bulan September (turun 10,2 persen). Singapura pun cadangan devisanya turun menjadi US$ 168,8 miliar pada bulan Oktober dari sekitar US$ 170 milyar pada bulan September.
Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi kita jauh lebih baik dibandingkan dengan prospek petumbuhan ekonomi negara-negara tetangga kita. Hal ini terutama disebabkan karena kontribusi ekspor terhadap PDB Indonesia (pada tahun 2007sekitar 29 persen) jauh lebih kecil dari negara tetangga kita. Rasio ekspor terhadap PDB Malaysia, misalnya, mencapai 110 persen. Sedangkan Singapura dan Thailand masing-masing mencapai 230 persen dan 73 persen (tabel 1).
Jadi, dampak dari perlambatan ekonomi global terhadap Indonesia akan lebih kecil dari yang dialami oleh negara-negara tetangga kita. Dengan kata lain, prospek ekonomi Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara tetangga kita.
Prospek Ekonomi AS
Sementara itu, dari sisi global pun terpilihnya Obama sebagai presiden AS memberikan harapan akan segera terjadinya perbaikan perekonomian di sana. Obama, yang berasal dari partai Demokrat, diperkirakan akan lebih memperhatikan keadaan ekonomi domestik dibandingkan dengan Bush yang berasal dari partai Republik.
Harapan ini tidaklah terlalu berlebihan, karena presiden yang berasal dari partai Demkorat dikenal cenderung lebih memperhatikan keadaan perekonomian domestik dibandingkan dengan presiden yang berasal dari partai Republik. Akibatnya, perekonomian AS cenderung tumbuh lebih cepat ketika dipimpin oleh presiden yang berasal dari partai Demokrat.
Data-data pertumbuhan ekonomi AS periode 1960 – 2008 tampakya memang menunjukkan kecenderungan yang demikian (gambar 1). Pada periode 1961 – 1969 (Kennedy, Johnson /demokrat) perekonomian AS tumbuh dengan laju rata-rata 4,7 persen, periode 1970 – 1976 (Nixon, Ford /Republik) tumbuh dengan laju rata-rata 2,7 persen, periode 1977 – 1980 (Carter /demokrat) tumbuh dengan laju rata-rata 3,3 persen, periode 1981-1992 (Reagan, Bush /republik) tumbuh dengan laju rata-rata 3,0 persen, periode 1993 – 2000 (Clinton /demokrat) tumbuh dengan laju rata-rata 3,7 persen, dan periode 2001 – 2007 (Bush /republik) tumbuh dengan laju rata-rata 2,3 persen.

Rakyat AS tampaknya menyadari hal ini, sehingga ditengah-tengah tekanan krisis finansial dan ekonomi di sana, tidaklah mengherankan bila mereka memberikan kepercayaan kepada Obama (yang berasal dari partai Demokrat) untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka.
Indonesia tidak akan terlepas dari pengaruh perlambatan ekonomi global. Akan tetapi dibandingkan dengan negara lain di sekeliling kita, Indonesia adalah negara yang paling sedikit terpengaruh. Selain itu, dengan kembalinya partai Demokrat menguasai kursi kepresidenan AS, ada harapan ekonomi AS tidak akan terpuruk berlama-lama. Kita mungkin akan menghadapi masa yang relatif lebih sulit dalam beberapa bulan ke depan. Akan tetapi, bukan berarti ekonomi kita akan memasuki resesi berkepanjangan.
oleh Purbaya Yudhi Sadewa
dimuat di harian Investor Daily, Senin 10 November 2008